Kementan Perkuat Infrastruktur Irigasi di Karawang untuk Jaga Produksi Padi Saat Musim Kemarau

Kementan Perkuat Infrastruktur Irigasi di Karawang untuk Jaga Produksi Padi Saat Musim Kemarau
Dok. Kementan

03 August 2026 , 14:13 WIB

AGRICOM, Karawang — Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat langkah antisipasi menghadapi musim kemarau dengan meningkatkan infrastruktur pengairan di berbagai sentra produksi pangan. Di Kabupaten Karawang, Jawa Barat, pemerintah menyalurkan 31 unit Irigasi Perpompaan (IRPOM) dan satu unit Irigasi Perpipaan (IRPIP) untuk menjaga ketersediaan air di lahan pertanian sekaligus mempertahankan produktivitas padi.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa ketersediaan air merupakan faktor utama dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional. Oleh karena itu, Kementan terus mempercepat pembangunan sarana irigasi, termasuk melalui program pompanisasi, agar petani tetap dapat menanam meski memasuki musim kemarau.

"Air adalah faktor penentu produksi. Karena itu, pompanisasi menjadi solusi cepat untuk memastikan sawah tetap mendapat pasokan air sehingga petani bisa terus tanam dan meningkatkan indeks pertanaman," ujar Amran, dikutip Agricom dari laman Kementan, Senin (3/8).

BACA JUGA: Kementan Luncurkan Program NBS-Agroforestry, Perkuat Perkebunan Berkelanjutan Hadapi Perubahan Iklim

Sebagai bagian dari upaya mitigasi kekeringan, Direktorat Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian (Ditjen LIP) juga menggelar rapat koordinasi bersama berbagai kementerian, pemerintah daerah, dan pemangku kepentingan terkait untuk menyusun langkah-langkah pengamanan produksi padi di Karawang.

Forum tersebut melibatkan perwakilan Kementerian Pekerjaan Umum, Kementerian BUMN, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, serta instansi teknis lainnya guna memperkuat sinergi dalam pengelolaan sumber daya air dan penanganan potensi kekeringan.

Melalui program tersebut, Kementan mengalokasikan 31 unit IRPOM yang mampu melayani sekitar 310 hektare lahan sawah serta satu unit IRPIP untuk mendukung pengairan 10 hektare lahan pertanian. Secara keseluruhan, bantuan tersebut ditujukan untuk menjaga pasokan air bagi 320 hektare lahan yang berpotensi terdampak musim kemarau sehingga petani tetap dapat mempertahankan intensitas tanam dan produktivitas.

BACA JUGA: INSTIPER Yogyakarta Berangkatkan 671 Mahasiswa Magang ke 18 Provinsi, Perkuat Link and Match dengan Industri

Direktur Jenderal Lahan dan Irigasi Pertanian, Hermanto, mengatakan pemerintah kini tidak hanya bersiap menghadapi musim kemarau, tetapi juga telah melakukan berbagai intervensi lebih dini guna meminimalkan dampak kekeringan, terutama di wilayah sawah tadah hujan yang belum memiliki jaringan irigasi memadai.

Menurutnya, keberhasilan pengamanan produksi pangan memerlukan koordinasi yang kuat antarinstansi serta respons cepat terhadap potensi kekeringan.

"Kami mengharapkan seluruh pihak, baik Kementan, Kementerian Pekerjaan Umum, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten, maupun dinas pertanian memiliki sense of crisis dalam menghadapi situasi ini. Kita tidak bisa lagi bekerja dengan cara-cara biasa. Langkah antisipasi harus dilakukan lebih cepat sebelum kekeringan benar-benar terjadi," kata Hermanto.

BACA JUGA: Kemendag Perkuat Daya Saing UMKM Kopi untuk Rebut Peluang Ekspor ke Jepang

Ia menambahkan, penguatan infrastruktur air harus dibarengi dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan agar langkah mitigasi kekeringan dapat berjalan efektif serta menjaga Karawang tetap menjadi salah satu penopang utama produksi padi nasional. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP