Cuaca Ekstrem Ancam Perkebunan RI, Kementan Gaspol Strategi Adaptasi untuk Selamatkan Produksi & Petani

Cuaca Ekstrem Ancam Perkebunan RI, Kementan Gaspol Strategi Adaptasi untuk Selamatkan Produksi & Petani
Agricom.id

25 March 2026 , 07:14 WIB

Kementerian Pertanian memperkuat mitigasi dan adaptasi untuk menjaga produktivitas komoditas perkebunan di tengah cuaca ekstrem yang semakin sulit diprediksi. Foto: Ditjenbun

 

AGRICOM, JAKARTA — Dinamika perubahan iklim yang semakin tidak menentu kian menjadi tantangan serius bagi subsektor perkebunan nasional. Pola cuaca yang sulit diprediksi, mulai dari hujan ekstrem dalam waktu singkat hingga lonjakan suhu drastis, berpotensi mengganggu produktivitas berbagai komoditas unggulan.

Tanaman perkebunan seperti kopi, kakao, kelapa sawit, dan tebu menjadi yang paling rentan terdampak apabila tidak diantisipasi secara tepat. Menyikapi hal tersebut, Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Perkebunan (Ditjenbun) terus memperkuat langkah mitigasi guna menjaga ketahanan sektor ini.

Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa pemerintah fokus mendorong strategi adaptasi untuk memastikan produktivitas tetap terjaga di tengah tekanan perubahan iklim.

BACA JUGA: 

- Mentan Amran Pacu Pelabuhan Tonra Jadi Penggerak Distribusi Pertanian Nasional

- Harga TBS Sawit Swadaya Riau Periode Akhir Maret 2026 Menguat, Tertinggi Rp3.842,69/kg

“Langkah mitigasi terus diperkuat melalui penerapan budidaya adaptif, penggunaan benih unggul, serta pendampingan intensif kepada pekebun agar produksi tetap optimal,” ujarnya, dikutip Agricom.id dari laman resmi Ditjenbun, Rabu (25/3).

Berbagai program telah dijalankan, mulai dari pemanfaatan benih tahan cuaca ekstrem, konservasi tanah dan air, hingga penerapan praktik budidaya berkelanjutan. Pendampingan kepada pekebun juga diperluas, terutama dalam mengantisipasi peningkatan serangan hama dan penyakit yang kerap muncul akibat perubahan iklim.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan, Abdul Roni Angkat, menekankan bahwa pengelolaan kebun yang adaptif menjadi kunci utama menjaga ketahanan subsektor ini.

BACA JUGA: 

- Presiden Prabowo Tegaskan Kemandirian Pangan Sebagai Pilar Utama Bangsa

- Kementan Perkuat Sawit Rakyat Lewat PSR dan Sarpras, Sasar 21 Provinsi pada 2026

“Penguatan konservasi tanah dan air, serta pemanfaatan informasi iklim menjadi fondasi penting agar perkebunan tetap tangguh menghadapi cuaca yang semakin dinamis,” jelasnya.

Menurutnya, peran teknologi kini semakin krusial dalam mendukung adaptasi. Akses cepat terhadap informasi cuaca, teknik budidaya, hingga manajemen kebun memungkinkan pekebun mengambil keputusan yang lebih tepat di lapangan.

Pemerintah juga mendorong transformasi digital dan penguatan kelembagaan untuk membangun ekosistem perkebunan yang tidak hanya tahan terhadap perubahan iklim, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan petani secara berkelanjutan.

BACA JUGA: Dorong Nilai Tambah dan Lapangan Kerja, Mentan Amran Tancap Gas Hilirisasi Pertanian

Upaya lain dilakukan melalui pembangunan demplot mitigasi dan adaptasi iklim sebagai kebun percontohan. Di lokasi ini, pekebun dilatih menerapkan teknik hemat air, penggunaan pestisida alami, serta pengolahan limbah menjadi kompos berbasis ekonomi sirkular.

Selain itu, program Pembukaan Lahan Tanpa Membakar (PLTB) terus digencarkan guna mendukung praktik pertanian ramah lingkungan. Pengelolaan tata air di lahan gambut juga diperkuat melalui pembangunan sekat kanal untuk menjaga kelembapan lahan selama musim kering.

Kesiapsiagaan masyarakat turut ditingkatkan melalui pembentukan Brigade Pengendalian Kebakaran Lahan dan Kebun (Karlabun) serta Kelompok Tani Peduli Api yang berperan aktif mencegah kebakaran hutan dan lahan.

BACA JUGA: Harga Referensi CPO Maret 2026 Naik 2,22%, Bea Keluar Ditetapkan USD 124/MT

Di sisi lain, pengembangan desa pertanian organik juga terus didorong untuk mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia, menjaga kesuburan tanah, serta menghasilkan komoditas yang lebih ramah lingkungan dan bernilai tambah.

Dalam praktik sehari-hari, pekebun diimbau menerapkan pengelolaan kebun yang bijak, mulai dari pemanfaatan limbah organik, pemupukan sesuai dosis, pengelolaan air yang efisien, hingga pemantauan rutin terhadap kondisi tanaman dan cuaca.

Teknologi konservasi air seperti rorak dan biopori juga dianjurkan untuk menjaga cadangan air tanah. Selain itu, pola tanam tumpang sari dan penggunaan tanaman penutup tanah dinilai efektif menjaga kelembapan sekaligus meningkatkan ketahanan lahan.

BACA JUGA: HPE Biji Kakao Periode Maret 2026 Anjlok 30,44 Persen Akibat Permintaan Melemah

Sebaliknya, praktik pembukaan lahan dengan cara membakar harus ditinggalkan karena berisiko memicu kebakaran. Pekebun juga diingatkan untuk tidak memperluas lahan ke kawasan lindung serta mengurangi penggunaan bahan kimia berlebih yang dapat merusak ekosistem.

Salah seorang pekebun mengaku pendampingan yang dilakukan pemerintah sangat membantu dalam menghadapi tantangan iklim. Ia optimistis dengan penerapan pola tanam adaptif, sektor perkebunan Indonesia dapat tetap bertahan.

Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah berharap subsektor perkebunan tidak hanya mampu menghadapi tekanan perubahan iklim, tetapi juga terus berkembang sebagai sektor masa depan yang inovatif dan berkelanjutan.

“Menjaga kebun hari ini berarti menjaga pangan, ekonomi, dan masa depan Indonesia. Perkebunan tangguh, Indonesia kuat,” tutup Roni. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP