Harga CPO Malaysia Masih Konsolidasi, Pasar Tunggu Data MPOB Pekan Depan

Harga CPO Malaysia Masih Konsolidasi, Pasar Tunggu Data MPOB Pekan Depan
Agricom.id

09 May 2026 , 15:00 WIB

Harga CPO Malaysia bergerak stagnan di tengah sikap wait and see pelaku pasar menjelang rilis data bulanan MPOB, sementara tekanan dari minyak nabati pesaing membatasi penguatan pasar. Foto: Agricom.id

 

AGRICOM, JAKARTA – Perdagangan harga minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives masih bergerak dalam fase konsolidasi pada akhir pekan ini. Pelaku pasar cenderung menahan transaksi sambil menunggu rilis data permintaan dan pasokan bulanan dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang dijadwalkan terbit pekan depan.

Sikap wait and see tersebut membuat harga kontrak berjangka CPO bergerak nyaris tanpa perubahan, sekaligus membuka peluang pelemahan mingguan kedua secara berturut-turut di tengah sentimen pasar yang masih berhati-hati.

BACA JUGA: CPO Bursa Malaysia Turun Lagi, Pasar Dibayangi Kenaikan Produksi dan Pelemahan Minyak Nabati Pesaing

Harga kontrak acuan CPO untuk pengiriman Juli 2026 di Bursa Malaysia Derivatives tercatat stagnan di level RM4.541 per ton pada jeda perdagangan siang, Jumat (8/5/2026). Meski demikian, secara mingguan kontrak tersebut telah melemah sekitar 1,03 persen, mencerminkan investor masih menunggu arah pasar yang lebih jelas sebelum mengambil posisi baru.

Di pasar domestik, harga CPO di PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) juga menunjukkan pergerakan terbatas. Pada perdagangan Jumat (8/5/2026), tender CPO mengalami withdraw (WD) dengan harga penawaran tertinggi berada di level Rp15.222/kg. Harga tersebut tidak berubah dibandingkan perdagangan Kamis (7/5/2026) yang juga mencatat penawaran tertinggi Rp15.222/kg.

BACA JUGA: Tender CPO KPBN Jumat (8/5) Kembali WD, Pasar Sawit Global Masih Menunggu Arah Baru

Pergerakan pasar CPO turut dipengaruhi tekanan dari minyak nabati pesaing. Harga kontrak minyak kedelai paling aktif di Bursa Dalian tercatat melemah 1,14 persen, sementara kontrak palm olein di bursa yang sama turun 0,87 persen. Pelemahan ini mencerminkan masih lemahnya sentimen di pasar minyak nabati Asia.

Namun, kondisi berbeda terjadi di pasar Amerika Serikat. Harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) justru menguat sekitar 0,65 persen. Kenaikan tersebut menunjukkan adanya divergensi sentimen di pasar global, di mana pelaku pasar masih mempertimbangkan faktor pasokan, permintaan, hingga pergerakan harga energi dunia.

BACA JUGA: GAPKI Perkuat Perlindungan Pekerja Sawit Lewat Workshop Padu Perkasa di Bengkulu

Analis pasar menilai arah perdagangan CPO dalam jangka pendek masih akan sangat dipengaruhi oleh data MPOB mendatang, terutama terkait tingkat stok minyak sawit Malaysia, volume ekspor, serta produksi April 2026. Jika data menunjukkan kenaikan stok yang lebih tinggi dari perkiraan pasar, tekanan terhadap harga CPO berpotensi berlanjut. Sebaliknya, penurunan stok dapat menjadi katalis positif bagi penguatan harga sawit global. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP