Harga CPO Bursa Malaysia Melemah, Tertekan Minyak Kedelai Global


AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (CPO) di pasar global kembali mengalami tekanan pada perdagangan Rabu (25/3/2026). Dilansir dari Bernama, kontrak CPO di Bursa Malaysia Derivatives ditutup melemah, dipicu oleh penurunan harga minyak kedelai di pasar internasional.

Pelaku pasar menilai, pergerakan minyak kedelai masih menjadi faktor utama yang memengaruhi arah harga CPO. Kedua komoditas tersebut bersaing ketat dalam pasar minyak nabati global, sehingga setiap pelemahan pada minyak kedelai cenderung memberikan tekanan langsung terhadap harga sawit.

BACA JUGA: Harga CPO Global Melemah, Tender KPBN Kompak Withdraw Pada Rabu (25/3)

Pada penutupan perdagangan, kontrak April 2026 tercatat turun RM77 menjadi RM4.503 per ton, sementara kontrak Mei 2026 juga merosot RM77 ke level RM4.542 per ton. Kontrak Juni 2026 melemah RM74 menjadi RM4.537 per ton.

Penurunan berlanjut pada kontrak jangka menengah. Kontrak Juli 2026 turun RM68 ke posisi RM4.512 per ton, diikuti Agustus 2026 yang terkoreksi RM60 menjadi RM4.482 per ton, serta September 2026 yang melemah RM53 ke level RM4.451 per ton.

BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Turun, Tertekan Soyoil dan Isu Kebijakan B50 Indonesia

Dari sisi aktivitas perdagangan, volume transaksi mengalami penurunan signifikan menjadi 65.523 lot, jauh lebih rendah dibandingkan 136.763 lot pada perdagangan sebelumnya. Posisi terbuka (open interest) juga turun menjadi 233.457 kontrak dari sebelumnya 237.306 kontrak, mencerminkan sikap wait and see dari pelaku pasar.

Sejalan dengan itu, harga fisik CPO untuk April turut melemah sebesar RM60 menjadi RM4.540 per ton.

BACA JUGA: Harga Referensi CPO Maret 2026 Naik 2,22%, Bea Keluar Ditetapkan USD 124/MT

Tekanan di pasar global turut berdampak pada pasar domestik. Harga CPO di tender PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) pada hari yang sama berakhir withdraw (WD), dengan penawaran tertinggi hanya mencapai Rp15.373/kg. Angka ini turun Rp452/kg atau sekitar 2,86% dibandingkan perdagangan sebelumnya yang mencapai Rp15.825/kg.

Kondisi ini mencerminkan sentimen pasar yang masih lemah, di mana pelaku industri cenderung menahan transaksi di tengah ketidakpastian arah harga global. Ke depan, pergerakan CPO diperkirakan masih akan sangat dipengaruhi oleh dinamika harga minyak nabati pesaing serta perkembangan permintaan global. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP