BPDP Dorong Riset Kakao Nasional, Fokus pada Hilirisasi, Produktivitas, dan Penguatan Industri Cokelat Dalam Negeri

BPDP Dorong Riset Kakao Nasional, Fokus pada Hilirisasi, Produktivitas, dan Penguatan Industri Cokelat Dalam Negeri
Agricom.id

09 May 2026 , 15:24 WIB

Dok. Agricom.id/ Komite Litbang Tony Liwang dalam Webinar Call for Proposal Grant Riset BPDP 2026, Kamis (30/4/2026).

 

Agricom.id, JAKARTA – Industri kakao Indonesia masih menyimpan peluang besar untuk dikembangkan sebagai motor penggerak agroindustri bernilai tambah tinggi. Namun untuk mewujudkannya, pembenahan sektor hulu, penguatan riset budidaya, serta percepatan hilirisasi dinilai menjadi langkah krusial agar Indonesia tidak hanya dikenal sebagai produsen biji kakao, tetapi juga pemain utama dalam industri olahan cokelat global.

Hal itu disampaikan Komite Litbang Tony Liwang dalam Webinar Call for Proposal Grant Riset BPDP 2026, Kamis (30/4/2026), yang dihadiri Agricom.id.

BACA JUGA: Harga Referensi Biji Kakao Periode Mei 2026 Naik, HPE Tembus USD 2.963/MT

Menurut Tony, tantangan utama pengembangan kakao nasional saat ini masih berkutat pada persoalan klasik di tingkat kebun, mulai dari serangan hama dan penyakit, dominasi tanaman tua, rendahnya penggunaan varietas unggul, hingga praktik budidaya petani yang masih tradisional dan belum berbasis teknologi.

“Mayoritas petani kakao kita masih mengelola kebun secara konvensional. Pemupukan belum optimal, intensifikasi budidaya juga masih terbatas. Ini yang menyebabkan produktivitas belum bisa melompat signifikan,” ujar Tony.

BACA JUGA: Grant Riset BPDP 2026 Resmi Dibuka, Prioritaskan Inovasi Berdampak bagi Sawit, Kelapa, dan Kakao

Padahal, di tengah tantangan tersebut, pasar domestik justru menunjukkan prospek cerah. Konsumsi cokelat nasional terus meningkat, dengan konsumsi per kapita pada 2020 telah mendekati 0,5 kilogram per tahun. Angka ini dinilai menjadi sinyal kuat bahwa pasar dalam negeri untuk produk kakao olahan masih sangat terbuka.

Tony bahkan menilai cokelat memiliki potensi besar sebagai produk pangan fungsional yang dapat didorong konsumsinya secara lebih luas.

“Cokelat memiliki kandungan nutrisi tinggi dan berpotensi menjadi bagian dari gaya hidup sehat. Konsumsi domestik perlu terus didorong agar industri hilir kakao semakin berkembang,” katanya.

BACA JUGA: Mentan Amran Sidak Pembibitan Kelapa di Manado, Temukan Ketidaksesuaian Data dan Bibit Tak Layak

Di sisi perdagangan global, posisi Indonesia masih cukup kuat. Indonesia tercatat sebagai salah satu eksportir utama produk kakao olahan dunia, terutama untuk komoditas cocoa butter. Namun paradoks masih terjadi: di saat ekspor produk kakao terus berjalan, impor produk olahan cokelat justru masih lebih besar.

Untuk produk cokelat misalnya, nilai ekspor Indonesia tercatat sekitar US$ 78 juta, sementara nilai impor mencapai US$ 132 juta. Kondisi serupa juga terjadi pada beberapa produk turunan lain seperti cocoa paste, yang menunjukkan industri hilir nasional belum sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan pasar domestik.

“Ini menjadi alarm bagi kita. Mengapa negara produsen kakao justru masih mengimpor lebih banyak produk olahan? Artinya, ada ruang besar yang belum kita kuasai di hilir,” tegas Tony.

BACA JUGA: Sawit sebagai Model Swasembada dan Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi

Lebih jauh, ia mengungkapkan bahwa pohon industri kakao sebenarnya menawarkan potensi nilai tambah luar biasa. Sejumlah produk turunan bernilai tinggi—termasuk bahan baku farmasi, kosmetik, pangan premium, hingga produk khusus seperti suppositoria—masih belum diproduksi secara komersial di Indonesia.

Padahal, nilai tambah dari hilirisasi produk kakao bisa melonjak berkali-kali lipat dibandingkan menjual biji mentah.

Selain aspek hilir, sektor hulu juga membutuhkan perhatian serius. Saat ini, industri kakao nasional melibatkan sekitar 1,6 juta petani kecil yang tersebar di berbagai sentra produksi seperti Sumatra, Sulawesi, hingga Nusa Tenggara. Namun luas area tanam stagnan, produktivitas menurun, dan ancaman organisme pengganggu tanaman semakin kompleks.

Sebagai respons, Badan Pengelola Dana Perkebunan menyiapkan arah riset kakao jangka panjang yang mencakup pengembangan varietas unggul adaptif iklim, penguatan precision agriculture, modernisasi pascapanen, peningkatan fermentasi biji kakao, serta pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung jutaan smallholders kakao.

Pada sektor pascapanen, peningkatan mutu fermentasi menjadi prioritas penting. Saat ini, proporsi biji kakao terfermentasi di Indonesia masih relatif rendah, padahal kualitas fermentasi sangat menentukan daya saing kakao premium di pasar global.

Selain itu, pendekatan agroforestri kakao juga dinilai menjadi model budidaya masa depan, mengingat kakao umumnya tumbuh optimal di bawah naungan dan dapat dikembangkan selaras dengan prinsip keberlanjutan lingkungan.

Ke depan, transformasi industri kakao Indonesia tidak hanya diharapkan meningkatkan ekspor dan mengurangi impor produk olahan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi yang lebih besar di dalam negeri, memperkuat posisi petani, serta mendorong lahirnya industri cokelat nasional yang kompetitif di pasar global. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP