Dok. Agricom.id/ Komite Litbang Tony Liwang dalam Webinar Call for Proposal Grant Riset BPDP 2026, Kamis (30/4/2026).
AGRICOM, JAKARTA – Komoditas kelapa dinilai menyimpan potensi ekonomi yang jauh lebih besar jika Indonesia mampu menggeser orientasi industri dari ekspor bahan mentah menuju hilirisasi berbasis inovasi. Di tengah penyusutan luas areal tanam dalam satu dekade terakhir, produktivitas kebun kelapa nasional justru masih relatif stabil—membuka ruang besar bagi peningkatan nilai tambah di sektor ini.
Hal tersebut mengemuka dalam Webinar Call for Proposal Grant Riset BPDP 2026 yang menghadirkan Komite Litbang Tony Liwang, Kamis (30/4/2026), yang turut dihadiri Agricom.id.
BACA JUGA: Grant Riset BPDP 2026 Resmi Dibuka, Prioritaskan Inovasi Berdampak bagi Sawit, Kelapa, dan Kakao
Tony mengungkapkan, dalam 10 tahun terakhir luas lahan kelapa Indonesia mengalami penurunan sekitar 10–15%. Namun di sisi lain, produktivitas nasional belum menunjukkan penurunan signifikan. Kondisi ini dinilai menjadi sinyal bahwa pembenahan sektor hulu, penguatan teknologi budidaya, dan hilirisasi industri masih sangat prospektif untuk didorong.
“Kelapa merupakan komoditas strategis yang dampaknya langsung menyentuh kesejahteraan rakyat, karena hampir 99% kebun kelapa di Indonesia dikelola petani,” ujar Tony.
Ia menjelaskan, struktur ekspor kelapa Indonesia saat ini masih didominasi kelapa bulat dengan volume mencapai sekitar 68,5%, namun kontribusi nilainya hanya sekitar 5,5%. Sebaliknya, produk olahan seperti minyak kelapa memiliki porsi volume lebih kecil, tetapi mampu menyumbang nilai ekspor lebih dari separuh total nilai perdagangan produk kelapa.
Data tersebut menunjukkan bahwa potensi ekonomi terbesar justru berada pada produk hilir, bukan pada ekspor komoditas mentah.
“Nilai tambah terbesar ada di produk olahan. Karena itu, arah pengembangan kelapa ke depan tidak cukup hanya menjual kelapa bulat, tetapi harus masuk ke industrialisasi dan hilirisasi,” tegasnya.
BACA JUGA: Harga Referensi Biji Kakao Periode Mei 2026 Naik, HPE Tembus USD 2.963/MT
Menurut Tony, hampir seluruh bagian kelapa memiliki prospek komersial. Sabut kelapa dapat diolah menjadi media tanam, bahan interior ramah lingkungan, hingga biomaterial berbasis lignin. Tempurung kelapa dapat menjadi karbon aktif, material filtrasi, bahkan bahan baku teknologi maju seperti grafena dan baterai. Sementara air kelapa yang selama ini banyak terbuang, sebenarnya memiliki kandungan nutrisi tinggi yang potensial dikembangkan menjadi produk pangan, minuman, hingga bahan industri kesehatan.
Pada bagian daging buah, peluang diversifikasi produk juga terbuka lebar, mulai dari santan, minyak, pangan olahan, bahan baku kosmetik, hingga senyawa bioaktif bernilai tinggi untuk farmasi.
Meski demikian, tantangan industri kelapa nasional masih besar. Produktivitas rata-rata kebun rakyat saat ini hanya sekitar 1–1,3 ton per hektare, padahal secara teknis bisa mencapai 3,5 ton per hektare. Selain itu, sekitar 15% tanaman kelapa nasional telah berusia di atas 50 tahun dan masuk kategori tidak lagi ekonomis, sehingga program peremajaan menjadi kebutuhan mendesak.
BACA JUGA: Sawit sebagai Model Swasembada dan Lokomotif Pertumbuhan Ekonomi
Keterbatasan akses pembiayaan, minimnya adopsi teknologi, dan lemahnya standardisasi pascapanen juga masih menjadi pekerjaan rumah sektor ini.
Menjawab tantangan tersebut, Badan Pengelola Dana Perkebunan telah menyusun peta jalan riset kelapa hingga 2035 yang mencakup tujuh bidang strategis, mulai dari budidaya, pascapanen dan pengolahan, pangan-pakan-kesehatan, biomaterial, energi, lingkungan, hingga penguatan sosial ekonomi dan digitalisasi tata kelola industri.
Fokus riset diarahkan untuk membangun sistem budidaya kelapa nasional yang modern, adaptif terhadap perubahan iklim, berbasis teknologi, dan terintegrasi dengan industri hilir.
BACA JUGA: Tender CPO KPBN Jumat (8/5) Kembali WD, Pasar Sawit Global Masih Menunggu Arah Baru
Dengan pendekatan tersebut, kelapa tidak lagi diposisikan semata sebagai komoditas tradisional, tetapi sebagai sumber pangan, energi, biomaterial, dan industri hijau yang berpotensi menopang ekonomi nasional sekaligus meningkatkan pendapatan jutaan petani.
Jika roadmap ini berjalan efektif, kelapa berpeluang menjadi salah satu motor baru agroindustri Indonesia—bukan hanya kuat di hulu, tetapi juga unggul dalam rantai nilai global. (A3)