Harga CPO Malaysia Anjlok 2,82 Persen, Tertekan Minyak Mentah dan Soyoil

Harga CPO Malaysia Anjlok 2,82 Persen, Tertekan Minyak Mentah dan Soyoil
Agricom.id

07 May 2026 , 03:14 WIB

Melemahnya harga minyak dunia dan minyak kedelai menekan pasar CPO, meski pergerakan di pasar domestik relatif stabil. Foto: Agricom.id

 

AGRICOM, JAKARTA – Harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali mengalami tekanan signifikan pada perdagangan Rabu (6/5/2026). Penurunan harga mendekati 3% dipicu oleh kombinasi sentimen negatif dari melemahnya harga minyak mentah global, penurunan harga minyak kedelai (soyoil), serta penguatan nilai tukar ringgit terhadap dolar Amerika Serikat.

Berdasarkan data perdagangan, kontrak acuan CPO untuk pengiriman Juli 2026 di Bursa Malaysia Derivatives Exchange (BMD) turun sebesar RM133 per ton atau terkoreksi 2,82%, sehingga ditutup di level RM4.577 per ton metrik.

BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Melonjak ke Level Tertinggi Sejak April, Didorong Optimisme Biodiesel Malaysia

Tekanan terhadap harga sawit semakin kuat setelah harga minyak mentah dunia melanjutkan tren pelemahan dan menyentuh level terendah dalam dua pekan terakhir. Sentimen pasar dipengaruhi oleh laporan yang menyebutkan bahwa Amerika Serikat semakin dekat mencapai kesepakatan dengan Iran untuk meredakan konflik yang berlangsung. Potensi tambahan pasokan minyak global dari kesepakatan tersebut memicu kekhawatiran pasar akan kelebihan suplai.

Kondisi ini berdampak langsung pada pasar biodiesel, di mana minyak sawit menjadi salah satu bahan baku utama. Ketika harga minyak mentah turun, daya tarik penggunaan CPO sebagai bahan bakar alternatif ikut melemah, sehingga menekan permintaan global.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Selasa (5/5) Menguat ke Rp 15.625/Kg, Reli Bursa Malaysia Dorong Sentimen Positif

Di dalam negeri, harga CPO yang ditetapkan oleh PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) tercatat sebesar Rp15.575 per kilogram pada Rabu (6/5/2026). Angka ini turun Rp50 per kilogram dibandingkan posisi Selasa (5/5/2026) yang mencapai Rp15.625 per kilogram, mencerminkan penyesuaian terhadap dinamika pasar global.

Dari sisi minyak nabati pesaing, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) juga mengalami penurunan sebesar 2,39%. Pelemahan ini turut memberikan tekanan tambahan terhadap harga minyak sawit, mengingat keduanya bersaing ketat dalam pasar minyak nabati global dan kerap bergerak searah.

BACA JUGA: Tak Hanya Sawit, Grant Riset BPDP 2026 Perluas Riset Komoditas Kelapa dan Kakao

Meski demikian, pergerakan pasar di kawasan Asia menunjukkan dinamika yang lebih variatif. Di Dalian Commodity Exchange, harga kontrak minyak kedelai tercatat naik 0,78%, sementara kontrak minyak sawit menguat tipis sebesar 0,37%.

Perbedaan arah ini mencerminkan adanya faktor regional yang turut memengaruhi pasar, di tengah tekanan global yang masih mendominasi. Ke depan, pelaku pasar akan mencermati perkembangan harga energi, kebijakan geopolitik, serta pergerakan minyak nabati pesaing sebagai penentu arah harga CPO selanjutnya. (A3)

IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP