Mentan Amran: Produksi Beras Aman di Tengah El Nino, SPHP Ditambah 1 Juta Ton

AGRICOM
Dok. Kementan/ Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan

AGRICOM, JAKARTA — Pemerintah memastikan produksi dan ketersediaan beras nasional tetap aman di tengah ancaman El Nino dan musim kemarau yang berlangsung lebih panjang. Untuk memperkuat pasokan sekaligus menjaga harga di tingkat konsumen, pemerintah menambah alokasi beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) medium sebanyak 1 juta ton.

Menteri Pertanian (Mentan) Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah telah menyiapkan sejumlah langkah antisipasi untuk menjaga ketersediaan pangan selama periode kemarau. Langkah tersebut mencakup percepatan penyaluran SPHP, bantuan pangan, hingga operasi pasar dalam skala besar.

Bacaan Lainnya

Kepastian itu disampaikan Amran seusai menghadiri rapat koordinasi bersama Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan dan sejumlah kementerian/lembaga terkait di Kantor Kemenko Pangan, Jakarta, Senin (7/9/2026).

BACA JUGA:Kementan Siapkan Rp2,3 Triliun untuk Hilirisasi Perkebunan pada 2027 

“Kesimpulan semuanya, aman, aman. Produksi dan kebutuhan pangan kita aman,” ujar Amran, dikutip Agricom dari Kementan, Kamis (10/9).

Menurut Amran, penambahan pasokan SPHP menjadi salah satu instrumen pemerintah untuk menjaga stabilitas harga beras. Selain itu, pemerintah mendorong percepatan distribusi beras medium dan premium melalui jaringan ritel agar pasokan di tingkat konsumen tetap terjaga.

“Yang pertama, SPHP kita tambah dan beras medium juga premium dorong ke ritel-ritel. Yang kedua, beras pecah atau menir kita stop impornya. Yang ketiga, untuk menekan harga ini, operasi pasar besar-besaran. SPHP ditambah satu juta ton, kemudian bantuan pangan dipercepat,” katanya.

BACA JUGA: Anggaran Kementan Rp28,02 Triliun pada 2027, Bawang Putih Jadi Prioritas Baru

SPHP Ditambah untuk Periode Oktober–Desember

Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan penambahan 1 juta ton SPHP medium merupakan keputusan pemerintah untuk merespons potensi tekanan pasokan dan harga beras selama musim kemarau.

“Untuk merespons itu, maka kami baru saja rapat memutuskan: kita tambah suplainya untuk beras subsidi yang kita kenal dengan SPHP. SPHP medium. Kita tambah lagi tadi 1 juta,” kata Zulkifli.

BACA JUGA: 28 Persen Areal Kopi Berpotensi Kering, Kementan Perkuat Budidaya Adaptif Iklim

Tambahan pasokan tersebut akan disalurkan pada periode Oktober hingga Desember 2026 dan dilanjutkan hingga memasuki masa panen berikutnya. Pemerintah berharap intervensi tersebut dapat menjaga ketersediaan beras sekaligus menahan kenaikan harga di pasar.

Amran menegaskan distribusi beras harus dipercepat, termasuk untuk memenuhi kebutuhan jaringan ritel modern. Pemerintah telah meminta Perum Bulog mempercepat penyaluran beras agar pasokan di pasar tidak mengalami kekurangan.

“Sudah didorong. Bulog kami minta percepat. Bulog minta percepat,” tegasnya.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Inacom Rabu (9/9) Turun Menjadi Rp15.900/Kg, CIF Rotterdam US$1.600/Ton

 

Impor Beras Pecah Dihentikan

Selain memperkuat pasokan beras konsumsi, pemerintah juga mengambil langkah untuk mengoptimalkan stok dalam negeri bagi kebutuhan industri tepung beras.

Kebijakan tersebut dilakukan dengan menghentikan impor beras pecah atau menir. Pemerintah akan memanfaatkan stok Bulog yang mengalami penurunan mutu untuk memenuhi kebutuhan industri, sehingga tidak seluruhnya berakhir sebagai stok pangan konsumsi.

BACA JUGA: Harga CPO Malaysia Rabu (9/9) Turun, Kontrak November Bertahan di RM4.967

Amran mengatakan sebelumnya terdapat rencana impor sekitar 380 ribu ton beras pecah atau menir. Namun, pemerintah memutuskan menghentikan impor tersebut dan mengoptimalkan pasokan dari dalam negeri.

“Beras yang diimpor itu 380 ribu ton, beras pecah, itu kita stop. Dari Bulog 380 ribu. Alhamdulillah, jadi kita tindak stop impor beras pecah, menir,” ujarnya.

Langkah ini sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah mengurangi ketergantungan terhadap impor untuk kebutuhan industri, dengan memanfaatkan stok domestik yang tersedia.

BACA JUGA: Komisi IV DPR Dorong Anggaran Kementan 2027 Diperkuat untuk Jaga Swasembada Pangan

SPHP Jagung untuk Peternak

Intervensi pemerintah tidak hanya diarahkan pada komoditas beras. Dalam rapat koordinasi tersebut, pemerintah juga memutuskan penyediaan SPHP jagung sebanyak 150 ribu ton.

Pasokan jagung tersebut ditujukan untuk membantu peternak rakyat dan pelaku usaha kecil dan menengah menghadapi potensi tekanan pasokan selama musim kemarau.

Dengan berbagai kebijakan tersebut, pemerintah berupaya melakukan mitigasi dari sisi produksi, distribusi hingga intervensi pasar. El Nino dan kemarau yang lebih panjang dipandang berpotensi memberikan tekanan terhadap produksi pangan, sehingga pemerintah memilih memperkuat pasokan sebelum gangguan tersebut berdampak lebih besar terhadap pasar.

Amran menegaskan operasi pasar dan percepatan bantuan pangan akan terus dilakukan sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas harga dan memastikan masyarakat tetap memperoleh beras dengan harga terjangkau.

“Operasi pasar besar-besaran. SPHP ditambah satu juta ton. Kemudian bantuan pangan dipercepat,” pungkasnya. (A3)

Pos terkait