Harga CPO Malaysia Sentuh Level Tertinggi Dua Pekan


AGRICOM, JAKARTA – Harga kontrak berjangka minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) di Bursa Malaysia Derivatives kembali menguat pada perdagangan Rabu (8/7/2026), mencatatkan level penutupan tertinggi dalam dua pekan. Penguatan tersebut didorong oleh kenaikan harga minyak nabati pesaing serta reli harga minyak mentah dunia di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran.

Mengutip Reuters, kontrak CPO acuan pengiriman September 2026 ditutup naik RM61 per ton atau sekitar 1,34% menjadi RM4.608 per ton metrik. Level ini merupakan harga penutupan tertinggi sejak 24 Juni 2026, mencerminkan sentimen positif yang kembali mengalir ke pasar minyak sawit global.

BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Melemah Tipis, Kenaikan Harga Minyak Nabati Global Beri Dukungan Pasar

Sejalan dengan penguatan di Bursa Malaysia, harga CPO di PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) juga mengalami kenaikan. Pada tender Rabu (8/7/2026), proses lelang berakhir withdraw (WD) dengan harga penawaran tertinggi mencapai Rp15.589/kg, naik sekitar Rp101/kg dibandingkan harga penawaran tertinggi pada Selasa (7/7/2026) sebesar Rp15.488/kg.

Kenaikan harga CPO turut dipengaruhi oleh menguatnya harga minyak nabati di pasar internasional. Di Bursa Dalian, kontrak minyak kedelai (soyoil) yang paling aktif naik 0,61%, sementara kontrak minyak sawit meningkat 0,38%. Di Chicago Board of Trade (CBOT), harga minyak kedelai bahkan melonjak hingga 2,19%, sehingga meningkatkan daya tarik minyak sawit sebagai komoditas substitusi.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Selasa (7/7) Menguat 0,82%, Bursa Malaysia Ditutup Melemah Tipis

Selain faktor eksternal, pelaku pasar juga mulai melakukan position squaring menjelang rilis laporan bulanan produksi, stok, dan ekspor minyak sawit dari Malaysian Palm Oil Board (MPOB). Laporan tersebut diperkirakan akan menjadi acuan penting bagi investor dalam menentukan arah pergerakan harga CPO dalam beberapa hari mendatang.

Analis menilai, apabila laporan MPOB menunjukkan penurunan stok atau produksi yang lebih rendah dari ekspektasi pasar, harga CPO berpotensi melanjutkan penguatan. Sebaliknya, apabila pasokan tercatat meningkat signifikan, reli harga diperkirakan akan menghadapi tekanan aksi ambil untung. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP