Harga CPO Malaysia Turun 1,4% Sepekan, KPBN Turun ke Rp15.485/Kg pada Perdagangan Jumat (3/7)

Harga CPO Malaysia Turun 1,4% Sepekan, KPBN Turun ke Rp15.485/Kg pada Perdagangan Jumat (3/7)
Agricom.id

04 July 2026 , 10:30 WIB

Dok. Agricom/Pelemahan harga CPO berlanjut pada Jumat (3/7/2026). Kontrak berjangka di Bursa Malaysia turun 0,16 persen, sementara harga CPO KPBN terkoreksi Rp60 per kilogram di tengah kekhawatiran peningkatan produksi dan stok global.

AGRICOM, JAKARTA – Pasar minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) kembali ditutup di zona merah pada perdagangan Jumat (3/7/2026). Tekanan jual masih mendominasi pasar menyusul meningkatnya ekspektasi produksi dan potensi kenaikan stok minyak sawit yang membebani sentimen investor sepanjang pekan.

Dilansir dari Reuters, kontrak CPO acuan pengiriman September 2026 di Bursa Malaysia Derivatives turun RM7 per ton atau sekitar 0,16 persen menjadi RM4.499 per ton pada jeda perdagangan siang. Pelemahan tersebut memperpanjang tren negatif mingguan, dengan kontrak acuan telah terkoreksi sekitar 1,4 persen sepanjang pekan ini.

BACA JUGA: Harga CPO Bursa Malaysia Turun, Pasar Tunggu Laporan MPOB

Kondisi serupa juga tercermin di pasar domestik. Harga CPO yang ditetapkan oleh PT Kharisma Pemasaran Bersama Nusantara (KPBN) pada Jumat (3/7/2026) berada di level Rp15.485 per kilogram, turun Rp60 per kilogram atau sekitar 0,39 persen dibandingkan harga pada Kamis (2/7/2026) yang tercatat sebesar Rp15.545 per kilogram.

Penurunan harga di kedua pasar menunjukkan bahwa sentimen global masih menjadi faktor utama yang memengaruhi pergerakan harga minyak sawit. Pelaku pasar saat ini lebih berhati-hati menyusul perkiraan peningkatan produksi di negara-negara produsen utama yang berpotensi mendorong kenaikan persediaan.

BACA JUGA: Harga CPO KPBN Naik ke Rp15.545/Kg Pada Kamis (2/7), Pasar Global Masih Menanti Laporan MPOB

Selain faktor pasokan, pergerakan harga minyak nabati lainnya juga memberikan tekanan terhadap CPO. Di Bursa Dalian, Tiongkok, kontrak minyak kedelai yang paling aktif melemah sekitar 0,2 persen, sedangkan kontrak minyak sawit turun lebih dalam, yakni sekitar 0,95 persen.

Melemahnya harga minyak nabati di pasar Tiongkok menunjukkan bahwa sentimen bearish masih meluas di pasar komoditas, terutama di tengah kehati-hatian pelaku pasar terhadap prospek permintaan global.

BACA JUGA: Harga Karet SGX-SICOM Jumat (3/7) Bertahan di Kisaran Rp37 Ribu/Kg

Sementara itu, perdagangan di Chicago Board of Trade (CBOT) tidak berlangsung pada Jumat karena libur nasional Hari Kemerdekaan Amerika Serikat, sehingga tidak memberikan acuan bagi pelaku pasar minyak nabati dunia.

Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data fundamental, termasuk perkembangan produksi, ekspor, dan tingkat persediaan minyak sawit di Malaysia yang diperkirakan akan menjadi penentu arah harga pada pekan mendatang. Di sisi lain, perkembangan permintaan dari negara importir utama seperti India dan Tiongkok juga masih menjadi perhatian karena akan memengaruhi keseimbangan pasokan dan permintaan di pasar global. (A3)


IKUTI BERITA LAINNYA DI GOOGLE NEWS.


TOP